Dionysus dan Para Pengikutnya

Ayah Semele adalah Cadmus, Raja dari Thebes. Dia hidup bahagia dan mewah di istana, bersama dengan saudari-saudarinya Autonoe, Ino, dan Agave. Semakin dewasa, semakin terlihat bahwa mereka tumbuh menjadi sangat cantik. Hidup terasa sempurna bagi para Putri ini, sampai suatu hari Semele jatuh cinta pada orang asing berperawakan tinggi dan tampan

Buta akan cintanya, Semele tidak memedulikan bahwa dia sebenarnya tidak tahu banyak mengenai kekasihnya. Dia pun merahasiakan hal ini dari keluarga dan teman-temannya, dan walaupun saudari-saudarinya menyadari ada yang berbeda dari Semele, namun tak ada yang mencurigainya.
Semele samasekali tidak tahu bahwa kekasihnya sesungguhnya adalah Zeus, yang mengunjunginya dengan berwujud sebagai manusia. Zeus sangat mencintai kecantikan dan keanggunan Semele, namun dia tidak bisa menemuinya dalam wujudnya yang sebenarnya. Jika Zeus melakukannya, maka Semele akan mati, karena tidak ada manusia yang dapat melihat wujud asli para Dewa tanpa terserap oleh kekuatan para Dewa. Namun, setelah beberapa lama menjalin kasih dengan Semele, Zeus akhirnya mengakui identitas aslinya pada Semele. Semele sangat terkejut, namun dia memercayai kekasihnya.

Walaupun Zeus sangat mencintai Semele, namun dia sudah memperistri Hera, Ratu dari para Dewa. Ketika Hera mengetahui Zeus sedang jatuh cinta pada Semele, dia menjadi marah karena kecemburuannya. Walau Zeus sering jatuh cinta baik pada manusia maupun dewi-dewi lain, dan walaupun Hera sudah terbiasa dengan sifat suaminya itu, namun rasa cemburunya masih tetap sama. Dia seringkali membalaskan dendamnya pada kekasih-kekasih Zeus itu.
Kali ini, Hera, dengan menyamar sebagai pelayan, mendatangi kamar tidur Semele. Dengan rasa simpati palsu, Hera berkata pada Semele bahwa dia mengetahui cinta rahasianya. Bagaimanapun juga, akhirnya Hera dapat meyakinkan sang putri untuk melihat wujud asli kekasihnya. Semele baru saja mengetahui bahwa dirinya hamil, dan walaupun dia memercayai kekasihnya, dia sekarang jadi terbujuk untuk mengetahui identitas sebenarnya dari ayah jabang bayinya.
Maka Semele pun memerintahkan sang pelayan untuk keluar dari kamarnya dan menunggu kedatangan kekasihnya. Ketika Zeus memasuki ruangan, Semele menggapainya lalu memeluk lehernya. “Kekasihku”, dia berkata, “pelayanku mengetahui tentang hubungan kita. Kita harus berhati-hati agar ayahku tidak mengetahui hubungan kita! Namun bukan ini saja yang ingin kusampaikan. Kekasihku, aku akan memiliki seorang anak. Bersumpahlah padaku bahwa kau akan mengabulkan satu permintaanku.”
Zeus terkejut dengan nada bicara sang putri yang tidak seperti biasanya, namun, karena dia benar-benar mencintainya, dia setuju dan berkata, “Aku bersumpah demi Sungai Styx di Hades (neraka) bahwa aku akan mengabulkan permintaanmu.”
Semele menggenggam tangan kekasihnya dan mengajaknya duduk. Lalu dia memohon untuk melihat wujud asli kekasihnya itu. Zeus sungguh terkejut karena permintaan intu. Dia menyadari apabila Semele melihat wujud aslinya, maka Semele akan mati, dan Zeus sangat tidak menginginkan hal itu terjadi. Namun Zeus telah berjanji atas nama Sungai Styx, yang mana tidak bisa diingkari. Walaupun Zeus telah menjelaskan apa yang akan terjadi jika dia memperlihatkan wujud aslinya, namun Semele tetap bersikeras untuk mendapatkan bukti mengenai identitas kekasihnya itu.
Maka, dengan berat hati, Zeus menepati janjinya. Zeus mulai menjelma ke wujud aslinya, dan disaat yang bersamaan, Semele terbakar karena tidak kuat melihat wujud abadi Zeus. Sebelum Semele meninggal, Zeus mengambil anak dalam kandungan Semele dari rahimnya. Dengan cekatan, dia memasukkan bayi itu ke pahanya agar tehindar dari bahaya. Zeus lalu meratapi kekasihnya sambil meninggalkan istana Thebhan secara rahasia.
Di bulan kesembilan, bayi Semele lahir dari paha Zeus. Anak itu dinamai Dynosius, dan Zeus meminta beberapa nymph untuk merawat anaknya dan menjauhkannya dari Ratu Hera yang masih marah atas hubungan Zeus dengan Semele.
Beberapa tahun kemudian, setelah Dionysus tumbuh besar, dia pamit pada para nymph yang telah merawatnya dan pergi untuk menjelajahi dunia, perlahan-lahan berjalan menuju Thebes. Dia telah tumbuh menjadi seorang yang tampan. Dionysus memakai pakaian yang terbuat dari kulit binatang, dan seringkali dia merasa lebih nyaman untuk hidup di alam bebas daripada di kota-kota yang dia kunjungi. Selama perjalannya, dia menunjukkan rakyat Yunani bagaimana menanam anggur dan bagaimana mengolah anggur itu menjadi wine (anggur merah). Dia seringkali diikuti dan dipuja oleh sekelompok wanita yang terlihat liar yang dipanggil Bacchae atau Bacchantes. Wanita-wanita ini juga mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit binatang, dan mereka biasanya menghiasi rambutnya dengan bunga-bungaan.
Setelah perjalanan beberapa tahun, Dionysus akhirnya sampai di kota tempat ibunya dulu tinggal, dan dia sangat terkejut karena dia sangat tidak diterima di kota ini. Rakyat Thebes tidak percaya bahwa dia adalah seorang dewa, begitu pula bahwa dia adalah anak Semele yang hilang. Dionysus juga akhirnya mengetahui bahwa ibunya tidak dihormati. Rakyat Thebes menganggap Semele adalah anak yang kurang ajar; mereka menganggap bahwa Semele telah mendapat hukuman setimpal dengan kematiannya. Dionysus sangat berang dengan ketidakpercayaan mereka bahwa dia adalah seorang dewa dan pada perlakuan mereka yang membenci ibunya.
Pada saat itu, Raja Thebes adalah Pentheus, sepupu Dionysus, anak dari Agave. Seperti orang Thebes lainnya, Pentheus tak percaya bahwa Dionysus adalah seorang dewa, diapun tidak mengenalinya sebagai sepupu. Pentheus berpikir bahwa orang asing ini hanya ingin mengganggu ketenangan kotanya. Dengan amarah, Pentheus memerintahkan agar Dionysus dan pengikutnya ditahan.
Walau Dionysus marah pada perlakuan Pentheus, namun dia tidak melawan saat dibawa ke tahanan. Namun hal aneh mulai terjadi di penjara kerajaan. Para penjaga kebingungan karena tak dapat mengunci penjara Dionysus berapa kali pun mereka mencoba. Dan tiba-tiba sebuah gempa besar terjadi, yang memorak-porandakan istana dan penjara. Orang-orang Thebes pun menyadari bahwa hal ini merupakan tanda bahwa dewa marah kepada mereka. Namun, Pentheus tetap tidak mempercayai bahwa Dionysus memiliki kekuatan spiritual, bahkan ketika Dionysus keluar dari penjara tanpa luka sekecil apapun.
Banyak wanita Thebes menjadi yakin akan kekuatan Dionysus, dan mereka pun menjadi pengikut Dionysus. Setelah berpakain mengenakan kulit hewan, para wanita itu pergi ke bukit diluar Thebes dimana mereka melompat-lompat dan menari layaknya binatang untuk menyembah Dionysus yang sekarang adalah dewa mereka.
Tidak berapa lama, seorang pembawa pesan mendatangi Pentheus untuk mengabarkan bahwa ibunya, Agave, dan bibi-bibinya berada diantara gerombolan wanita Bacchae yang menari-nari diatas bukit. Dia juga mengatakan pada Pentheus bahwa para pengawal mencoba berbicara pada Agave dan wanita-wanita lain, namun pada saat mereka mendekat, mereka diserang oleh mereka. Para pengawal juga melihat para wanita itu menghancurkan hutan dengan tangan kosong dan memporak-porandakan setiap desa yang mereka lewati dengan liar.
Pentheus sangat geram mendengar berita ini. “Bahkan ibuku sendiri!” katanya dengan sedih.
“Bertingkah bagaikan wanita Bacchae yang gila itu! Apa lagi yang akan terjadi setelah ini?”
Pada saat kemarahan Pentheus semakin memuncak, Dionysus menghampirinya, dengan rencana balas dendam di otaknya. Pentheus masih belum percaya bahwa Dionysus adalah dewa, namun tidak berapa lama, dia bagai kerasukan dan menyetujui setiap kata yang diucapkan Dionysus, walau bagaimanapun anehnya.
Mula-mula, Dionysus meyakinkan Pentheus bahwa dia harus memanjat bukit dan lihat sendiri bagaimana tingkah para wanita pengikutnya. Hanya dengan begitulah Pentheus bisa menemukan cara untuk menghentikan tingkah memalukan mereka.
Dalam keadaan terhipnotis, Pentheus memohon pada Dionysus untuk mendandani penyamarannya agar tidak dikenali para wanita di bukit. Dionysus lalu mandandani Pentheus dengan wig rambut panjang dengan gaun berwarna-warni. Dibawah pengaruh Dionysus, Pentheus berpikir dia kelihatan anggun, padahal nyatanya dia kelihatan sangat bodoh.
Setelah selesai, Dionysus mengantar sang raja keatas bukit dimana para Bacchae sedang berpesta. Ketika mereka sampai, Dionysus meyakinkan sang raja untuk naik ke pohon agar bisa melihat keadaan sekitar dengan lebih baik. Lalu, saat Pentheus telah berada diatas pohon, Dionysus menghilang. Pentheus sangat terkejut karena Dionysus tiba-tiba meninggalkannya, namun dia yakin para wanita Bacchae tak bisa melihatnya.
Malangnya bagi Pentheus, Dionysus juga telah menghipnotis para wanita itu. Maka, ketika mereka melihat ketas bukit, bukan Pentheus yang mereka lihat melainkan singa gunung yang bersiap menyerang. Agave yang ketakutan melihatnya, berteriak, “Bunuh singa itu!”
Bagai bintang yang mengendap mendekati mangsanya, mereka menyerang Pentheus dan menariknya dari pohon. Sekeras apapun Pentheus memohon belas kasihan, bukan tangis raja nya yang mereka dengar melainkan hanyalah geraman singa buas belaka.
Dionysus telah memberikan kekuatan yang lebih dari manusia pada para wanita itu, dan dengan tangan kosong, mereka mencabik-cabik Pentheus. Dan, masih dalam keadaan terhipnotis, mereka kembali ke Thebes. Sebagai simbol kemenangan mereka atas singa buas yang telah mereka bunuh, mereka mengarak kepalanya bagaikan sebuah trofi. Ketika mereka memasuki kota sambil membawa kepala Pentheus, rakyat Thebes begitu terkejut dan hanya bisa terdiamdiam melihatnya karena begitu ketakutannya mereka.
Ketika mereka telah mencapai istana, Agave memanggil ayahnya, Cadmus, untuk memamerkan trofinya. Ketika Cadmus melihat apa yang Agave bawa, wajahnya memucat, dan dia mulai menangis. Dengan mengangkat kepala dari korbannya tinggi-tinggi, Agave berkata, “Ayah, mengapa engkau menangis? Lihatlah bagaimana aku telah membunuh singa gunung! Lihatlah betapa kuat dan beraninya anakmu ini! Mengapa kau tidak bangga padaku?”
Sambil menangisi cucunya yang telah mati, dan menangisi Agave yang begitu menyayangi anaknya Pentheus lebih dari apapun di dunia, Cadmus berkata, “Wahai Agave, lihatlah lagi pada trofi yang telah kau bawa, maka kau akan mengerti mengapa aku menangis.”
Kesedihan Cadmus menghilangkan efek hipnotis pada Agave, dan ketika dia melihat lagi pada apa yang dia bawa di tangannya, tawa kebanggannya berubah menjadi jeritan kengerian. Diapun menyadari bahwa dia telah membunuh anaknya sendiri! Dengan berlutut ke tanah, Agave pun menangis, dan akhirnya menyadari kekuatan dewa Dionysus, yang mana telah dihinakan oleh keluarganya karena ketidakpercayaan mereka.

About Bombo Unyil

Anak dirantau, sendiri , disini , di Dunia Maya
This entry was posted in Mitos and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s