Hari Lupa

Hari Lupa
Pernah mengalami saat yang paling menjengkelkan sekaligus memalukan dan membuat Anda merasa ingin bersembunyi seketika?

Menjelang magrib, awal Januari, Po’oh mengayun langkah menembus sebuah lorong di Jalan Abubakar Lambogo, Makassar. Sekira sepuluh langkah memasuki lorong itu, ia berpapasan seorang pengendara motor, yang membonceng istri dan dua anaknya. Pengendara itu menatap aneh ke arah Po’oh kemudian berhenti tiba-tiba. Seketika pengendara itu berteriak menyebut nama Po’oh.

“Aduh, ternyata kita jumpa di sini!” ucapnya, sembari menarik tangan Po’oh dengan gemas. “Lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabar teman-teman yang lain?”

Po’oh gelagapan. “O, baik,” jawabnya kemudian sekadar mencocok-cocokkan. Tapi di sinilah masalahnya. Po’oh sama sekali lupa pengendara tersebut. Dia berupaya menyedot semua ingatan yang seakan menggumpal di ‘sumsum’ tulang kakinya untuk mengenali orang itu. Tetap saja dia tidak menemukan kata kunci siapa lelaki itu.

Maka seperti biasa, kebohongan itu berlangsung lagi. Agar lelaki tersebut tidak merasa kecewa, Po’oh bersikap seolah-olah mengenali, berakrab-akrab, menepuk-nepuk bahunya, mengusap rambut si anak yang didudukkan di tangki, tanya kabar, aktivitas terakhir, sembari mengingat-ingat orang tersebut siapa.

Lelaki itu menyebutkan aktivitasnya. Sial, Po’oh masih lupa. Lelaki itu menceritakan sebagian pengalaman lucu mereka ketika aktif ber-interkom ria hingga tengah malam, saat masih remaja dulu. Ampun, Po’oh ingat interkomnya, juga puluhan nama stasiun teman-temannya, tapi tetap lupa lelaki itu. Lebih memalukan lagi, lelaki tersebut sudah menyebutkan namanya, berkali-kali, namun Po’oh belum menemukan bayangan apa-apa tentang lelaki itu.

O, langit dan bumi, inilah kejadian yang sangat tidak mengenakkan. Sungguh payah. Lelaki itu sudah menceritakan sebagian pengalaman mereka, bahkan sudah menyebutkan identitasnya tapi Po’oh masih belum mengenali siapa dia. Mengapa lelaki itu benar-benar terhapus dalam memorinya? Ada apa ini?

Po’oh seakan ingin membentur-benturkan kepalanya ke tembok lorong. Satu per satu wajah temannya, lengkap dengan nama, latar belakang, suka-duka, malah gelar akademiknya, lantas berhamburan dari ingatannya – namun lelaki tersebut benar-benar terlupa.

Mereka berpisah. Po’oh menarik napas panjang. Ingin rasanya menangisi keadaan ini. Seekor keong merayap di dinding lorong yang lembap. Ingin rasanya Po’oh masuk ke cangkang keong itu kemudian bersembunyi di dalamnya. Sangat menjengkelkan keadaan ini. Lelaki itu sudah menceritakan semua tentang dirinya, bahkan sudah menyebut namanya, Po’oh masih saja belum mengingatnya.

Po’oh melihatnya berlalu. Berkali-kali Po’oh menepuk jidat. Tuhan, lindungilah dia dan keluarganya. Ridhailah hidup mereka. Ampunilah dosa-dosa hamba. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui.

Makassar, 13 Februari 2010.Oleh: Nur Alim Djalil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s